Langsung ke konten utama

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "IDENTIFIKASI MAKNA FILOSOFIS PADA PERMASALAHAN PENDIDIKAN MATEMATIKA"

   
Tugas UAS
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A
Disusun oleh : Novi Indriyani Kones

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
1.      Bagaimana filsafat memandang fenomena siswa masih menganggap matematika itu pelajaran yang sulit ?
Penjelasan :
Secara pragmatism, matematika dapat dipandang sebagai ilmu tentang dunia nyata dimana konsep matematika muncul dari usaha manusia memecahkan persoalan dunia nyata misalnya pengukuran pada geometri, gerak benda pada kalkulus, perkiraan pada teori kemungkinan dan lain-lain. Tetapi lebih dari itu, matematika juga digunakan untuk ilmu-ilmu lain, maka muncul pula istilah-istilah yang bersesuaian dengan ilmu-ilmu itu, misalnya yang berkaitan dengan mekanika, ilmu perbintangan, ilmu kimia, biologi dan seterusnya.
Pendekatan ontologis merupakan refleksi untuk menangkap kenyataan matematika sebagaimana kenyataan tersebut telah ditemukan. Dalam kesadaran akan dirinya maka orang yang memikirkan matematika adalah orang yang paling dekat dengan kenyataan matematika dan dari sinilah maka dia dapat memulai untuk menemukan kenyataan seluruh matematika dan hubungan dirinya dengan matematika. Kesadaran ontologis berusaha merefleksikan dan menginterpretasikan kenyataan matematika kemudian secara implisit menghadirkannya sebagai suatu pengetahuan yang berguna dalam pergaulan dengan orang lain serta secara eksplisit dapat dirumuskan dalam bentuk-bentuk formal untuk mendapatkan tema-tema yang bersesuaian. Ketika kita berusaha mendefinisikan matematika yang begitu rumit maka kita akan menjumpai “infinit regres” yaitu penjelasan tiada akhir dari pengertian yang dimaksud. Tentulah hal ini tidak mungkin dilakukan. Jika kita menginginkan dapat memperoleh pengetahuan tentang “hakekat matematika” maka pengetahuan demikian bersifat paling sederhana dan paling mendasar (sui generis). Pengetahuan matematika yang demikian tidak dapat disederhanakan lagi dan tidak dapat dijelaskan mengunakan ungkapan lainnya. Oleh karena itu pendekatan epistemologis perlu dikembangkan agar kita dapat mengetahui kedudukan matematika di dalam konteks keilmuan. Salah satu cara adalah dengan menggunakan bahasa “analog”. Dengan pendekatan ini maka kita mempunyai pemikiran bahwa “ada” nya matematika bersifat “analog” dengan “ada” nya objek-objek lain di dalam kajian filsafat. Jika pengetahuan yang lain kita sebut “ide” dan berada di dalam pikiran kita, maka matematika juga dapat dipadang sebagai “ide” yang berada di dalam pikiran kita. Jika kita berpikir suatu pengetahuan sebagai bentuk “kebahasaan” maka kita juga dapat berpikir bahwa matematika merupakan bentuk “kebahasaan”.
2.      Bagaimana filsafat memandang fenomena kemampuan matematika kurang berdasarkan hasil PISA 2018)?
Fisafat kemampuan adalah progresivisme, filsafat ini berpendapat bahwa pendidikan bukan hanya mentransfer pengetahuan kepada anak-anak melainkan melatih kemampuan dan keterampilan berpikir dengan cara memberi rangsangan yang tepat. John Dewey tokoh pragmatis dan termasuk dalam golongan progresivisme. Beliau mengatakan bahwa sekolah adalah intuisi sosial kemudian pendidikan adalah proses kehidupan bukan mempersiapkan anak untuk masa depan. Pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, maka kebutuhan individual anak-anak harus diutamakan bukan berorientasi mata pelajaran.
3.      Bagaimana filsafat memandang fenomena pembelajaran matematika yang kurang melibatkan kegiatan kehidupan sehari-hari?
Filsafat konstruktivisme mengemukakan pengetahuam bukanlah gambaran kenyataan saja tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek . Subjek membentuk skema kognitif, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan. Belajar merupakan proses aktif pellajar mengkonstruksi makna atau arti baik dari teks, dialog, pengalaman fisik, atau lainnya. belajar juga menyatakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang telah dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai pelajar sehingga pengertiannya berkembang. Menurut konstruktivisme, kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif. Siswa membangun sendiri pengetahuan dan mencari sendirI dari apa yang dipelajari. Menurut konstruktivisme, mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa tetapi suatu kegiatan yang memungkinakn siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpastisipasi dengan siswa dalam membentuk pengalaman, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
4.      Bagaimana filsafat memandang materi himpunan dalam pembelajaran matematika?
Penjelasan :
Fungsi dalam logika matematika adalah berkaitan dengan keberadaan himpunan yang oleh fungsi dikenakan aturan padanan yang membuat himpunan berurutan.  Secara kefilsafatan, keberadaan himpunan berhubungan erat dengan persoalan tentang ada sehingga berada pada ranah ontologis. Dalam ranah ontologis, pembahasan tentang himpunan mencakup pembahasan tentang esensi, struktur, dan jenis realita yang terdapat dalam himpunan. Himpunan merupakan kumpulan hal yang mempunyai ciri dan sifat yang sama. Himpunan mempunyai esensi atau hakikat yang terletaj pada kuantitas. Dalam himpunan terdapat lebih dari satu realitas yang dibatasi oleh adanya persamaan ciri atau sifat.
5.      Bagaimana filsafat memandang kegiatan observasi dalam pembelajaran matematika?
Penjelasan :
Kegiatan observasi diawali dengan kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh dari logika pegalaman tidak dapat bekertja sendiri tanpa bantuan logika pikir sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan pengetahuan pikir dan sensasi pengalaman. Dapat dikatakan pengalaman pikir apabila sesuai dengan aksioma atau postulat pokor dan dapat dikatakan sensasi pengalaman apabila sesuai denga hokum sebab akibat serta hubungan antar satuan pengalaman. Aksioma atau postulat pikir dan satuan pengalaman berada dalam kategori pokor Imanuel Kant. Interaksi antara pengetahuan pikir dan sensasi pengalaman tersebut yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan yang bersifat sintetik a priori dan sintesik sensasinya a priori pikirannya.
6.      Bagaimana filsafat memandang etnomatematika dalam pembelajaran matematika?
Penjelasan :
Secara material, objek matematia berada di lingkungan sekitar kita seperti benda-benda kongkrit, sawah berbentuk persegi panjang, sumur berbentuk silinder, penyebutan angka-angka pada proses berdagang di pasar dan sebagainya. Secara formal, obyek matematika itu berupa benda-benda pikir. benda-benda pikir diperoleh dari benda kongkrit dengan melakukan “abstraksi” dan “idealisasi”. Abstaksi merupakan kegiatan hanya mengambil sifat-sifat tertentu saja untuk dipelajari. Idealisasi adalah kegiatan menganggap sempurna sifat-sifat yang ada. Makna-makna yang terungkap dari matematika material dan formal itulah kemudian akan menghasilkan nilai matematika. Nilai matematika yang dihasilkan dari budaya disebut etnomatematika.
7.      Bagaimana filsafat memandang tentang fenomena moral siswa yang tidak menghormati guru dalam pembelajaran matematika ?
Penjelasan :
Dalam pembahasan filsafat moral, secara garis besar ada dua macam teori etika yaitu teleologis dan deontologis. Etika teologis merupakan etika yang menentukan baik buruknya suatu tindakan dari baik buruknya akibat yang menjadi tujuannya. Sementara itu, etika deontologis merupakan sistem etika yang tidak ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensi tetapi hanya kewajiban semata. Dengan kata lain, deontologis berpandangan bahwa moralitas suatu tindakan melekat pada tindakan itu sendiri.
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethikosethos yang berarti adat, kebiasaan atau praktik atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau tentang adat kebiasaan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika itu dijelaskan sebagai ilmu tentang apa yang baik dana pa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral; kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; serta nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Etika merupakan teori tentang perbuatan manusia, dipandang dari nilai baik dan buruk sejauh mana dapat ditentukan oleh akal. Sementara itu, moral merupakan ajaran-ajaran wejangan-wejangan, khutbah-khutbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan, baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusai hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari contohnya ajaran moral itu bagaikan ban pengaman yang dilemparkan ke kolam untuk menyelamatkan orang yang sedang tenggelam, sedangkan etika mengajarkan orang bagaimana dia dapat berenang sendiri. Tiga mcam pendekatan etika yaitu : (1) etika deskriptif, etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas seperti adata kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan; (2) etika normatif, etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsung diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-masalah moral; (3) metaetika, metaetika merupakan cara mempraktikan etika dengan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas artinya metaetika ini pada taraf bahasa etika atau bahasa yang kita gunakan pada bidang moral.
8.      Bagaimana filsafat memandang fenomena siswa yang masing kurang dalam menguasai konsep matematika?
Penjelasan:
Elemen penting untuk interpretasi konsep matematika adalah kemampuan manusia dari abstrak (Bold, T., 2004). Kemampuan abstrak adalah kemampuan pikiran untuk mengetahui sifat abstrak dari obyek dan menggunakannya tanpa kehadiran objek. Karena kenyataan pada semua matematika adalah abstrak, ia percaya bahwa salah satu motif dari intuitionist untuk berpikir matematika adalah produk satu-satunya pikiran.
9.      Bagaimana filsafat memandang fenomena siswa masing merasa aljabar materi SMP yang sulit dipelajari?
Penjelasan :
Konstruktivisme berasumsi bahwa pengetahuan tumbuh dan berkembang dari aktivitas mengkonstruksi bukan melalui transfer atau proses pemindahan. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari guru kepada siswa tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh siswa berdasarkan pengetahuna yang telah dimilki dan bimbingan guru. Prinsip-prinsip pada konstruktivisme, yaitu pertama pengetahuan tidak secara pasif diterima tetapi pengetahuan secara aktif yang dibangun oleh siswa. Kedua lebih menekankan pada proses belajar. Ketiga, pembelajaran bertujuan membantu siswa untuk belajar. Keempat, belajar merupakan proses pencarian dan pengembangan makna berdasarkan pengalaman. Kelima, adanya aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa diajak untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (konsep variabel dan konstanta) melalui kegiatan yang telah didesain oleh guru. Guru bukan perperan sebagai pusat pembelajaran tetapi sebagai seorang yang dapat memfasilitasi siswa agar dapat mengkonsruksi pengetahuan dengan baik.
10.  Bagaimana filsafat memandang fenomena kemampuan penalaran matematika siswa yang kurang?
Penjelasan:
Proses berpikir yang dikembangkan oleh manusia semakin memberikan pemahaman dan pengertian. Dari pengembangan pikir ditemukan dua model yang mewakili kelompok ilmu. Pertama yang mementingkan pengamatan yaitu empiris maknanya meraba atau aposteriori. Kedua adalah ilmu yang seakan-akan ingin menangkap keniscayaan secara apriopri dengan mengandalkan penalaran/rasio. Rasionalisme merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya berdasar pada akal / rasio. Akal merupakan penggerak dari sebuah kesanggupan untuk berpikir. Tanpa pikiran tentu tidak ada sesuatu yang dipikirkan dan tidak ada yang diketahui. Tokohnya Rene Decartes, Leibnitz, Wolff.
11.  Bagaimana filsafat memandang matematika syarat nilai dan terikat budaya?
Penjelasan:
Konstruktivisme sosial matematika sebagai produk dari aktivitas manusia terorganisir, sepanjang waktu. Matematika dijiwai dengan nilai-nilai pembuat dan konteks budaya mereka. Konstrukstivisem sosial dimulai dari premis bahwa semua pengetahuan yang dihasilkan oleh aktivitas intelektual manusia, memberikan kesatuan genetik yang mendasari untuk semua bidang pengetahuan manusia. Menurut konstruktivisme sosial, pengetahuan matematika dihubungkan terkait dengan bidang pengetahuan lain, dan melalui bagian akarnya juga syarat nilainya, diakui menjadi bagian pengetahuan lainnya. karena matematika terkait dengan semua pengetahuan manusia, hal ini merupakan budaya terikat dan dijiwai dengan nilai-nilai pembuat dan konteks budaya mereka.
12.  Kemampuan koneksi matematika siswa masih tergolong kategori rendah
Penjelasan:
Koneksi berasal dari kata “connection” yang artinya hubungan, terhubung, menghubungkan.
Pada pandangan filsafat, konstruktivisme didasarkan pada gagasan bahwa semua pengetahuan dibangun. Prinsip utama dari teori kontruktivis menyatakan bahwa siswa mampu membangun makna dari pengalaman dengan mengintegrasika atau menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Melalui lensa konstruktivis “pengetahuan matematika dibangun setidaknya sebagian melalui proses absraksi reflektif”. Membangun dan memahami konsep, ide, fakta atau prosedur matematika melibatkan hubungan antara pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Konsep penting yang muncul dari teori konstruktivisme untuk menjelaskan bagaimana membuat koneksi dapat membantu dalam pembelajaran matematika adalah teori skema. Koneksi matematika dapat digambarkan sebagai komponen skema atau kelompok skema yang terhubung dalam jaringan mental. Struktur skema adalah struktur memori yang berkembang dari pengalaman individu dan memandu respon individu terhadap lingkungan. Berdasarkan pandangan konsruktivis, koneksi matematika dapat dianggap sebagai jembatan antara pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru yang digunakan untuk membangun atau memperkuat pemahaman tentang hubungan antara atau diantara gagasan, konsep, atau representasi matematika.
13.  Model pembelajaran berbasis budaya lokal cirebon belum ada.
Penjelasan:
Model pembelajaran berbasis budaya lokal Cirebon sebenarnya ini merupakan bagian dari model pembelajaran yang terdapat pada kurikulum 2013 karena pembelajaran melibatkan kehidupan sehari-hari dari siswa melalui budaya Cirebon. Oleh karena itu pada hakikatnya, model pembelajaran merupakan proses belajar siswa yang sering dihadapkan pada persoalan-yang susah untuk dipecahkan, dalam memecahkan masalah siswa sering lebih sering mengulang pengetahuan-pengetahuan belajar yang dimilikinya. Pada akhirnya terjadi proses berpikir terkait proses yang menghubungkan antara pengalaman hidup dan pengalaman belajar dengan pengetahuan lainnya. Secara epistemologi, model pembelajaran ini melihat langsung dari pengalaman sehari-hari yang sering dijumpai sehingga pengalama yang di dapat orang lain dapat memformulasikan dari pengalaman secara langsung dengan buku teks. Model pembelajaran ini memliki keunikan, motivasi yang dimiliki, terdapat potensi dan siswa juga memiliki kesamaan yang unik. Hal ini menjadikan kegiatan pembelajaran memiliki sifat pembelajaran yang bersifat klasikan dan individual, siswa yang berfikir cepat dan lambat dapat menyikapi hal yang unik dari siswa baik yang terkait dengan faktor individual maupun faktor lingkungan sosial.
14.  Penerapan etnomatematika di Cirebon yang belum maksimal pada pembelajaran matematika.
Penjelasan :
Istilah “etnomathematics” dikenalkan oleh matematikawan dan pengajar Brazil yang bernama D’Ambrosio pada tahun 1977 selama presentasi untuk American Association for the Advancement of Science. Terdapat empat bagian yang merupakan penyusun etnomatika, yaitu budaya, tradisi, historis, akar sosial-budaya, dan matematika. Keempat unsur tersebut disatukan untuk mencari solusi abadi dari pertanyaan siswa terhadap matematika di mana saja. Bagaimana menghubungkan matematika dengan sosial budaya yang ada di tempat siswa belajar dengan lingkungan sekitarnya. Etnomathematics atau etnomatematika merupakan pembelajaran mengenai hubungan antara matematika dan budaya. Definisi lain, etnomatematika merupakan matematika yang dipraktekkan bersama dengan kelompok budaya yang diidentifikasi. Manfaatnya adalah untuk memberikan konstribusi terhadap mengerti budaya dan matematika dan intinya mengarah pada suatu apresiasi terhadap hubungan diantara keduanya.
15.  Kurangnya variasi bentuk soal matematika.
Penjelasan :
Soal matematika erat kaitannya dengan bentuk penilaian (asesmen) dalam pembelajaran matematika. Asesmen pembelajaran merupakan proses memperoleh data atau informasi mengenai hasil pembelajaran peserta didik yang terdiri dari aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terencana dan sistematik untuk mengkontrol proses, perkembangan dan hasil pembelajaran melalui tugas dan evaluasi hasil pembelajaran. Menurut Cheryl A Jones (2005, p. 5) menyatakan bahwa:
“Assessment for Learning is all about informing learners of their progress to empower them to take the necessary action to improve their performance.
Tujuan perlunya melakukan asesmen adalah untuk :
1)      Mendiagnosa kekuatan dan kelemahan peserta didik.
2)      Memantau kemajuan belajar.
3)      Memberi atribut pemberian nilai.
4)      Menentukan efektivitas pengajaran.
Pembelajaran matematika tidak dapat terlepas dari bantuan alat asesmen pada kegiatan asesmen. Mansur, Rasyid, dan Suratno (2019, p. 30)menjelaskan bahwa alat-alat yang digunakan dalam asesmen yaitu berupa tes dan non-tes.
Prinsip-prinsip yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memilih dan menggunakan asesmen pembelajaran yaitu sebagai berikut (Rosidin, 2017):
1)      Sasaran pembelajaran yang akan dinilai pada asessmen harus jelas.
2)      Teknik-teknik asesmen yang dipilih harus benar-benar sesuai dengan masing-masing sasaran pembelajaran.
3)      Teknik-teknik asesmen yang dipilih harus benar-benar memenuhi pembelajar.
4)      Jika memungkinkan, sasaran pembelajaran harus digunakan berbagai indikator prestasi pembelajaran.
5)      Ketika seorang pendidik menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap hasil asesmen,
16.  Kurangnya konteks budaya lokal pada soal matematika.
Penjelasan:
Permasalahan ini kaitannya dengan pembelajaran kontekstual karena pembelajaran kontekstual berangkat dari suatu keyakinan bahwa seseorang tertarik untuk belajar jika siswa melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Sistem pembelajaran kontekstual didasarkan pada anggapan bahwa makna memancar dari hubungan antara isi dan konteksnya  karena konteks akan memberi makna pada isi. Adapun pendapat lain pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi oleh siswa sehari-hari dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja. Pembelajaran kontekstual  dengan keluasan konteks maka siswa dapat membuat hubungan-hubungan, lebih banyak makna isi ditangkap oleh siswa, siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
17.  Siswa kurang motivasi dalam belajar matematika
Penjelasan :
Motivasi secara istilah berasal dari kata motiv yang artinya dorongan atau pacuan untuk melakukan sesuatu. Konsep dasar motivasi merupakan konstruk dari teori untuk menjelaskan permulaan, arah, intensitas, persistensi, dan kualitas perilaku. Motivasi merupakan konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan alasan secara umum mengapa seseorang melakukan suatu hal. Dalam konteks kelas, konsep dari motivasi siswa adalah digunakan untuk menjelaskan ketertarikan siswa dan intensitas keberadaanya dalam pembelajaran yang mungkin dan tidak mungkin diinginkan oleh guru mereka. Motivasi siswa merupakan refleksi dari dorongan dan tujuan mereka berusaha keras untuk mencapai dan berakar pada pengalaman subjek, khususnya mereka terhubung dengan keterlibatan mereka dalam pembelajaran dan alasan mereka melakukan suatu hal.
18.  Siswa masih kurang dalam berpikir kritis
Penjelasan :
Kritisme Immanuel Kant, Kritisme ini berusaha mengadakan penyelesaian pertikaian antara rasionalisme dan empirisme yang bertolak belakang. Rasioanalisme berpendirian bahwa rasio/akal merupakan sumber pengetahuan sedangkan empirisme berpendirian bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut. Immanuel Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Kant mengatakan bahwa pengenalan manusia merupakan sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur-unsur aposteriori. Kant tidak menentang adanya akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni menghasilkan ppengetahuan tanpa dasar indrawi. Pengetahun indrawi tidak dapat menjangkau hakikat objek dan tidak sampai pada kebenaran umum. Adapun kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, artinya harus jelas dan pasti dengan sendirinya. Immanuel Kant memulai filsafatnya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Isi utama kritisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika. Ciri-ciri dari kritisme dalam tiga hal:
1)      Menganggap objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2)      Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
3)      Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur apriori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu serta peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
Kritisme Immanuel Kant sebenarnya telah memadukan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substansial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan. Pengalaman juga tidak dapat dijadikan hanya sebagai tolak ukur utama karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional.
19.  Siswa belum menguasai materi geometri.
Penjelasan :
Geometri merupakan sebagian dari matematik yang mengambil persoalan mengenai size, bentuk, dan kedudukan relatif dari sifat ruang. Pada mulanya, geometri hanya sebagian dari pengetahuan praktis yang menitik beratkan pada jarak luas dan isi kemudian geometri telah diletakkan di dalam bentuk aksioma euclid membentuk geometri euclid pada abad 3 SM. Secara bahasa, geometri berasal dari bahasa Yunani yaitu greek yang berarti ukura bumi artinya mencakup mengukur segala sesuatu yang ada di bumi. Kata geomteri menurut orang Mesir dan Babuloni ini diperluas untuk perhitungan panjang ruas garis, luas, dan volume.
Dalam pembelajaran matematika, geometri berkenaaan dengan bangun-bangun geometri, garis dan sudut, kesebangunan, kekongruenan, transformasi, dan geometri analitis. Geometri merupakan bagian visual yang dipelajari polanya dalam matematika dan akann menghubungkan matematika dengan dunia nyata. Geometri juga dipandang sebagai sistem matematika yang menyajikan fenomena yang bersifat abstrak tetapi pembelajaran dilakukan secara bertahap yang dimulai dengan benda-benda nyata sebagai media disesuaikan dengan perkembangan anak. Oleh karena itu, obyek geometri adalah hal yang abstrak
20.  Siswa masih merasa bingung dalam menghubungkan konsep SPLDV pada soal cerita SPLDV.
Penjelasan:
Sistem persamaan merupakan sejumlah persamaan yang benas secara bersamaan. Sistem persamaan dapat diartikan sebagai nilai dari kuantitas-kuantitas yang tak diketahui atau variabelnya sama untuk kedua persamaan. Linier merupakan suatu persamaan dimana pangkat teritnggi dari setiap suku adalah satu. Konsep dalam sistem persamaan linier dua variabel adalah dua persamaan linier yang masing-masing persamaan memiliki dua variabel yang tidak diketahui. Kasus-kasus dalam aljabar khususnya sistem persamaan linier dua variabel bersumber dari beragam problem kehidupan sehari-hari kemudian berkembang pada kasus-kasusu yang abstrak. Oleh karena itu, aljabar sebagai cabang matematika juga berpola pikir deduktif yaitu kebenaran harus dibuktikan secara umum sedangkan ruang lingkup dari matematika tercakup dalam matematika murni.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "8 JUDUL PERMASALAHAN PENELITIAN PENDIDIKAN"

Tugas UAS Mata Kuliah : Filsafat Umum Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Disusun oleh : Novi Indriyani Kones Berdasarkan  permasalahan-permasalahan pembelajaran matematika pada tugas bagian 1 maka dapat diidentifikasi 8 judul tesis berikut ini: 1.        Pengembangan Soal Matematika Berbasis Budaya Cirebon. 2.        Soal Koneksi Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 3.        Soal Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 4.        Pengembangan Soal Koneksi dan Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 5.        Model Pembelajaran Matematika SMP Berbasis Etnomatematika 6.        Model Pembelajaran Matematika SMA Berbasis Budaya Lokal 7.        Pengembangan Instrumen Penilaian Siswa Berbasis Budaya Cirebon. 8. ...

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "JUDUL DAN DRAF PROPOSAL PERMASALAHAN PENELITIAN PENDIDIKAN"

      Tugas UAS Mata Kuliah : Filsafat Umum Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Disusun oleh : Novi Indriyani Kones JUDUL TESIS: Instrumen Soal Koneksi dan Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal DRAF PROPOSAL A.      Latar Belakang Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dengan pendidikan baik pendidikan formal maupun non formal. Hal ini disebabkan oleh pendidikan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sesuai dengan pendapat Wardani, Supriyoko dan Prihatni (2018) pendidikan merupakan salah satu cara dalam memperbaiki sumber daya manusia. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran pada pendidikan Indonesia yang perannya juga sangat penting dengan ilmu pengetahuan yang lain. Oleh karena itu, mata pelajaran pendidikan matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. National Council of Teaching of Mathematic  ...