Langsung ke konten utama

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "JUDUL DAN DRAF PROPOSAL PERMASALAHAN PENELITIAN PENDIDIKAN"

     Tugas UAS
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A
Disusun oleh : Novi Indriyani Kones


JUDUL TESIS:
Instrumen Soal Koneksi dan Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal
DRAF PROPOSAL
A.    Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dengan pendidikan baik pendidikan formal maupun non formal. Hal ini disebabkan oleh pendidikan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sesuai dengan pendapat Wardani, Supriyoko dan Prihatni (2018) pendidikan merupakan salah satu cara dalam memperbaiki sumber daya manusia. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran pada pendidikan Indonesia yang perannya juga sangat penting dengan ilmu pengetahuan yang lain. Oleh karena itu, mata pelajaran pendidikan matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi.
National Council of Teaching of Mathematic (NCTM) menjelaskan terkait standar proses dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penalaran dan pembuktian, kemampuan komunikasi, kemampuan koneksi, kemampuan representasi. Kelima standar tersebut sebagian terdapat pada kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan ilmiah (scientific) dimana poses pembelajaran matematika siswa diarahkan agar mampu mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. Penjelasan dari standar proses tersebut dalam matematika memiliki peranan penting dan perlu dikuasai untuk pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasionak Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi, menyatakan bahwa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada mata pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; 2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3) memecahkan masalah; 4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Menteri Pendidikan Nasional, 2006).
Kemampuan penalaran matematika merupakan kemampuan yang menjadi fundamental dalam mengembangkan kemampuan matematika dan menggunakan semua keterampilan matematika yang lainnya. kemampuan penalaran matematika merupakan keterampilan yang penting untuk menggunakan semua keterampilan matematika yang lainnya (NCTM, 2000:26). Perkembangan penalaran matematika yang dialami oleh siswa menjadikan siswa dapat berpikir masuk akal dan memahami dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Penyelesian masalah matematika sekaligus siswa mengevaluasi situasi, memilih strategi pemecahan masalah, menarik kesimpulan secara logis, mengembangkan solusi, menjelaskan solusi, dan mengenali bagaimana solusi tersebut diterapkan.
Pembelajaran matematika akan bermakna ketika matematika dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari atau lingkungan budaya sekitar siswa. Hal ini sesuai dengan Arisetyawan, A., Suryadi, D., Herman, T.,dan  Rahmat, C. (2014) yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan budaya dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemampuan kognitif matematika siswa karena kebermaknaan pembelajaran yang dilakukan. D’Ambrosio juga menyarankan pendidikan matematika seharusnya memasukkan akar budaya dan penting dari teknik melakukan, menjelaskan dan mengetahui lingkungan alam dan sosial yang kemudian dikenal dengan etnomatematika (D’Ambrosio, 1985). Kenyataannya penelitian- penelitian etnomatematika yang dilakukan di Cirebon belum mencapai ranah penerapan dalam pembelajaran matematika sehingga mengakibatkan kemampuan koneksi matematika siswa menjadi lemah. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan dari penelitian etnomatematika untuk bekonstribusi pada pemahaman budaya dan pemahaman matematika terutama mengarah pada apresiasi koneksi (Rubio, 2016).
Fakta dan data lain yang dapat dilihat dari hasil survei yang dilaksanakan oleh  Programme for Internasional Student Assesment (PISA) tahun 2018 terkait kemampuan matematika menunjukkan bahwa Indonesia berada peringkat ke 36 dari 41 negara dan termasuk negara dengan rata-rata kemampuan matematika yang rendah (OECD, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia perlu ditingkatkan kembali kualitasnya dari berbagai segi dalam pembelajaran matematika.
Permasalahan-permasalahan diatas diperlukan suatu upaya yang nyata untuk mengatasinya. Upaya yang dilakukan untuk mengasah kemampuan koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal sehingga siswa mampu menganggap matematika merupakan pelajaran yang masuk akal dalam lingkungan budaya sekitar siswa salah satunya dengan mengembangkan soal-soal matematika yang membutuhkan koneksi dan penalaran dalam menyelesaikannya. Meskipun telah banyak dilakukan penelitian terkait pengembangan soal matematika konteks budaya lokal tetapi pengembangan soal matematika dengan mengkolaborasikan antara kemampuan matematika dengan konteks budaya lokal jarang bahkan belum pernah ditemui. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Instrumen Soal Koneksi dan Penalaran Matematika Konteks Budaya Lokal”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konstruksi soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal yang dikembangkan?
2.      Bagaimana reliabilitas soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal yang dikembangkan?
3.      Bagaimana kemampuan koneksi dan penalaran matematika siswa SMP?
C.    Landasan Teori
1.      Pembelajaran matematika
Secara pragmatism, matematika dapat dipandang sebagai ilmu tentang dunia nyata dimana konsep matematika muncul dari usaha manusia memecahkan persoalan dunia nyata misalnya pengukuran pada geometri, gerak benda pada kalkulus, perkiraan pada teori kemungkinan dan lain-lain. Tetapi lebih dari itu, matematika juga digunakan untuk ilmu-ilmu lain, maka muncul pula istilah-istilah yang bersesuaian dengan ilmu-ilmu itu, misalnya yang berkaitan dengan mekanika, ilmu perbintangan, ilmu kimia, biologi dan seterusnya.
Matematika merupakan mata pelajaran yang terdapat pada satuan pendidikan di Indonesia dari jenjang TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Matematika merupakan mata pelajaran yang terdapat pada semua jenjang pendidikan sebagai sarana berfikir yang jelas dan logis dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa informal, simbol, dan rumus untuk menghubungkan antara konsep.
Pendidikan matematika merupakan kunci untuk membuka peluang dalam kehidupan dalam keberhasilan peserta didik dalam mempelajari matematika ((NCTM), 2000, p. 1). Pembelajaran matematika merupakan proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam meningkatkan kemampuan siswa (Zubaidah & Risnawati, 2016, p. 8). Tujuan dari pembelajaran matematika adalah proses yang dirancang secara sengaja yang bertujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seorang siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran matematika harus benar-benar dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman dan peserta didik. Oleh karena itu, NCTM memperkenalkan standar matematika dari jenjang dasar sampai menengah yang berisi uraian tentang petunjuk, sumber, dan panduan matematika terhadap apa yang memungkinkan peserta didik untuk mengetahui, melakukan, dan mengambil keputusan dalam pendidikan matematika.
2.      Asesmen dalam Pembelajaran
a.      Pengertian Asesmen dalam Pembelajaran
Asesmen pembelajaran merupakan proses memperoleh data atau informasi mengenai hasil pembelajaran peserta didik yang terdiri dari aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terencana dan sistematik untuk mengkontrol proses, perkembangan dan hasil pembelajaran melalui tugas dan evaluasi hasil pembelajaran (Friatma & Anhar, 2019). Sistem asesmen pembelajaran yang digunakan pada pendidikan harus terdiri dari unsur-unsur berikut (Kazlauskiene & Gaucaite, 2019): (1) sistem asesmen pembelajaran yang proporsional memenuhi tipe penilaian, (2) sistem asesmen pembelajaran yang mencakup manifestasi yang seimbang dari ketentuan penilaian, (3) sistem asesmen pembelajaran yang berfokus pada semua dimensi pertumbuhan kepribadian: kemampuan subjek, kompetensi umum, kematangan kepribadian, (4) sistem asesmen pembelajaran yang menyeimbangkan peran peserta sesuai dengan tujuannya.
Menurut Cheryl A Jones (2005, p. 5) menyatakan bahwa:
“Assessment for Learning is all about informing learners of their progress to empower them to take the necessary action to improve their performance.
Asesmen merupakan salah satu komponen pokok dalam proses pembelajaran dengan teknik yang terus berkembang dengan harapan dapat meningkakan kualitas pembelajaran (Widiana, 2016). Djemari (2008)mengemukakan bahwa asesmen adalah bagian penting dari pengajaran dan bahwa pengajaran yang baik tidak akan berhasil tanpa asesmen yang baik sehingga usaha peningkatan kualitas pendidikan harus mencakup usaha untuk menjadikan sistem asesmen yang baik digunakan.
b.      Tujuan Asesmen dalam Pembelajaran
Asesmen pembelajaran bertujuan untuk memperoleh umpan balik dengan syarat : (1) memberikan informasi kepada individu yang berfokus pada kinerja atau perilaku mereka, (2) informasi harus disampaikan secara positif dan mengarah pada tindakan untuk menegaskan atau mengembangkan kinerja atau perilaku individu, (3) informasi tidak boleh bersifat pribadi dan harus fokus pada data, fakta atau contoh bukti yang diamati, (4) Umpan balik afirmasi diberikan sesegera mungkin setelah kinerja telah diamati, (5) membangun agar peserta didik terus berkembang, (6) umpan balik yang efektif dirancang untuk memenuhi kebutuhan individu dan secara langsung terkait dengan bukti yang dapat diamati - baik karya tertulis atau praktik peserta didik atau kinerja tugas yang diberikan, (7) berfokus pada aksi individu, (8) umpan balik yang efektif berkaitan dengan satu poin dalam satu tim, (9) keputusan penilaian (kelas atau nilai), dan ini lebih penting, dan (10) umpan balik tentang kinerja mereka. Asesmen memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran dan melihat keefektifan dari proses belajar mengajar (Widiana, 2016).
d.      Alat Asesmen dalam Pembelajaran
Pembelajaran matematika tidak dapat terlepas dari bantuan alat asesmen pada kegiatan asesmen. Mansur, Rasyid, dan Suratno (2019, p. 30)menjelaskan bahwa alat-alat yang digunakan dalam asesmen yaitu berupa tes dan non-tes. Penjelasan mengenai jenis-jenis bentuk tes sebagai berikut: 
1)      Tes
Hasil tes bisa digunakan untuk memantau perkembangan mutu pendidikan. Hasil tes untuk tujuan ini harus baik, yaitu memiliki kesalahan pengukuran sekecil mungkin. Kesalahan pengukuran ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kesalahan acak dan kesaahan sistematik. Kesalahan acak disebabkan karena kesalahan dalam memilih sampel isi tes, variasi emosi seseorang, termasuk variasi emosi pemeriksa jika lembar jawaban peserta tes diperiksa secara manual. Kesalahan sistematik disebabkan karena soal tes terlalu mudah atau terlalu sukar. Ada pendidik yang cenderung membuat tes yang sulit, sehingga estimasi kemampuan peserta didik underestimate , tetapi ada juga pendidik yang cenderung membuat tes terlalu mudah, sehingga estimasi kemampuan peserta didik overestimate. Hal ini tidak diinginkan karena tidak memberikan data tentang kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
2)      Tes Pilihan Ganda
3)      Bentuk Uraian Objektif
Bentuk soal uraian objektif sangat digunakan untuk bidang matematika dan IPA, karena unci jawabannya hanya satu.
4)      Bentuk Uraian Non-Objektif
Bentuk uraian non-objektif karena penilaian yang dilakukan cenderung dipengaruhi subjektivitas dari penilai. 
3.      Kemampuan Koneksi Matematika
Kemampuan koneksi merupakan proses yang memiliki peranan penting dalam pembelajaran dan melakukan kegiatan matematika karena kemampuan koneksi matematika termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi. 
Secara umum koneksi matematika terdiri dari model koneksi dan koneksi matematika. Model koneksi merupakan hubungan antara situasi pada masalah di kehidupan sehari-hari atau disipliner dengan representasi matematika sedangkan koneksi matematika merupakan hubungan antara dua representasi setara dan antara proses penyelesaian pada masing-masing representasi (Putir, Minarti, & Saptini, 2018). Koneksi matematika sebagai komponen dari skema atau hubungan grup dari skema dari suatu jaringan, skema tersebut diperoleh dari struktur yang berkembang dari pengalaman individu dan respon individu pada lingkungan (Eli, Mohr-Schroeder, & Lee, 2011).
Indikator dari kemampuan konekasi matematika berdasarkan NCTM (2003) terdiri dari identifiksi dan menggunakan keterkaitan antara ide matematika, memahami bagaimana ide matematika dapat menghubungkan dan mengembangkan satu dengan yang lain secara lengkap, identifikasi dan menggunakan matematika dalam konsep diluar matematika. 
5.      Budaya Lokal
Penggunaan nilai-nilai budaya lokal dalam pembelajaran matematika bukan hal yang tidak mungkin. Hal itu karena matematika merupakan hasil dari budaya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh NCTM (2000, p. 4) bahwa matematika merupakan bagian dari warisan budaya. Alasannya karena matematika merupakan salah satu dari prestasi budaya maka masyarakat harus memupuk apresiasi dan pemahaman terhadap matematika. Selain itu, pembelajaran matematika yang menggunakan konteks budaya lokal sebagai dukungan terhadap visi pendidikan di Kota Cirebon yaitu mewujudkan kualitas sumber daya manusia Kota Cirebon yang berdaya saing, berbudaya, unggul di segala bidang khususnya bidang pendidikan.
Budaya yang dimaksud pada visi tersebut adalah nilai-nilai budaya daerah Cirebon dengan dikombinasikan dengan nilai-nilai budaya Indonesia dalam konteks perkembangan budaya lokal. Nilai budaya dalam pendidikan berada pada tiga ranah yaitu nilai budaya sebagai pendukung tujuan pendidikan, nilai budaya sebagai pendekatan dalam pelaksanaan dan pengelola pendidikan, serta nilai budaya sebagai isi atau muatan dalam pendidikan. Hal ini menandakan bahwa pendidikan bukan hanya proses mentransfer pengetahuan  melainkan proses memasukkan karakter Indonesia dan nilai budaya (Wijayanto & Retnaningsih, 2019). Oleh karena itu, konteks budaya agar dapat digunakan dalam pembelajara matematika maka terlebih dahulu harus mempelajari konsep budaya.
Budaya berasal dari kata sansekerta buddayah merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal sehingga secara istilah budaya merupakan cara hidup yang dikembangkan oleh masyarakat lokal untuk memenuhi keperluan dasar, bertahan hidup, meneruskan keturunan dan mengatur pengalaman sosialnya dilihat dari berbagai aspek kehidupan (Harahap & Lubis, 2018). Mendefinisikan budaya merupakan dunia yang dimiliki oleh individu yang mempunya kekuatan dapat memberikan kebebasan pada suatu grup atau membatasi pola perilaku dan kognitif tertentu (M., 2016). Selanjutnya, menurut Rachmawati (2012) budaya merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari karena kebudayaan sebagai kesatuan yang utuh dan menyeluruh yang berlaku dalam suatu komunitas.              
6.      Aktivitas Budaya Berbentuk Matematika
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang memiliki peranan penting di pendidikan karena pada mata pelajaran apapun pasti ada unsur matematika yang dipelajari dari unsur yang dasar sampai unsur yang tinggi. Berperannya matematika pada pendidikan pasti tidak terlepas dari perkembangan atau sejarah matematika di dunia. Selain itu, peran penting matematika juga dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Seperti pendapat Ramiah (2015) , matematika diresapi dalam kehidupan manusia, baik secara eksplisit dan implisit (Francois & Kerkhove, 2010).
Matematika adalah pengetahuan universal, dan mendasari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. D'Ambrosio pada tahun 1985 menyarankan pendidikan matematika harus memasukkan akar budayanya mengembalikan proses budaya penting dari teknik melakukan, menjelaskan, dan mengetahui tentang lingkungan alam dan sosial kita dan menekankan eksperimen matematika, pemodelan dan penelitian etnomatematika (D'Ambrosio, 1985). Dapat dikatakan matematika adalah pengetahuan yang melekat dalam kegiatan kehidupan, di mana setiap kegiatan tidak terpisahkan dari kegiatan matematika (Muhtadi, 2017). Dengan kata lain, bahwa matematika sangat dekat dengan budaya dalam konteks perilaku atau kebiasaan yang telah ada atau dilakukan sejak zaman nenek moyang dan tetap dilestarikan secara turun temurun. Zhang (2010) menyatakan bahwa satu hal yang harus ditunjukkan adalah bahwa "matematika" yang dimaksud di sini memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya mengandung pengetahuan matematika, keterampilan matematika dan cara berpikir matematika, tetapi matematika yang tidak sepenuhnya berkembang dan bahkan masih dalam embrio negara juga harus dilibatkan atau bahwa keragaman bentuk matematika harus benar-benar dipertahankan.
Menurut para ahli, terdapat 6 cabang matematika yaitu aritmetika, geometri, aljabar, trigonometri, kalkulus, dan statistik. Di dalam cabang-cabang matematika tersebut terdapat aktivitas yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membilang, menghitung, mengukur dan lain sebagainya.
1.      Membilang
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, membilang adalah menghitung dengan cara menyebutkan satu per satu sesuatu untuk mengetahui berapa banyaknya sehingga terfokus pada kegiatan penyebutan sesuatu dan berkaitan dengan berapa banyaknya. 
2.      Menghitung
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghitung adalah mencari jumlahnya (sisa, pendapatannya) dengan menjumlahkan, mengurangi, dan sebagainnya dengan tujuan untuk menghubungkan data-data hasil perhitungan. C
3.      Mengukur
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, mengukur adalah meghitung ukuran (panjang,besar,luas,volume,tinggi,dan sebagainya) dengan alat tertentu. 
4.      Menentukan lokasi
Aktivitas menentukan lokasi secara tradisional biasanya menggunakan arah mata angina maupun arah angina ataupun dengan bantuan gerak-gerak bintang. 
5.      Membuat Rancang Bangun
Gagasan lain yang berkaitan dengan etnomatematika yang bersifat universal adalah aktivitas membuat rancang bangun yang telah diterapkan oleh semua jenis budaya yang ada. Jika aktivitas menentukan lokasi berhubungan dengan posisi dan orientasi seseorang dalam lingkungan alam maka aktivitas membuat rancangan bangun berhubungan dengan semua bentuk dari benda-benda untuk keperluan rumah tinggal, perdagangan, peperangan, perhiasan, perrmainan bahkan keagamaan.
6.      Menjelaskan
Aktivitas menjelaskan adalah aktivitas yang mengangkat pemahaman manusia yang berkaitan dengan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya yang berkenaan dengan kepekaaan seseorang terhadap gejala alam. Penjelasan ini dengan matematika biasanya berhubungan dengan pertanyaan berupa “mengapa” bentuk geometri seperti itu, “mengapa” jumlah yang dilakukan sebanyak itu, dan lain sebagainya yang masih mengikuti hokum matematika. 
7.      Pengembangan Soal Koneksi dan Penalaran Matematika SMP Konteks Budaya Lokal
Penelitian pengembangan sebagai sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengkaji secara sistematik terhadap desain, pengembangan evaluasi program, proses dan produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria valid, kepraktisan, dan efektifitas. Pengembangan soal merupakan strategi yang penting terutama pada keterampilan kognitif berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Samritin dan Suryanto yang menyatakan bahwa pengembangan keterampilan berpikir merupakan aspek penting dalam pendidikan. Pengembangan dalam penelitian ini adalah pengembangan soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal siswa SMP.
Soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal yang dikembangkan berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan. Bentuk soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal yang dikembangkan terdiri dari soal uraian singkat dan soal essay.
8.      Analisis Butir Soal
Penyusunan soal dalam rangka mengembangkan soal sangat mempengaruhi kualitas butir soal. Oleh karena itu, proses penyusunan soal diperlukan langkah-langkah analisis butir soal untuk mengetahui kualitas soal yang telah dikembangkan. Analisis merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengetahui informasi tentang segala hal dari perlakuan, pengumpulan, dan pengolahan data untuk menentukan kesimpulan yang didukung data yang empiris. Analisis soal merupakan suatu tahap yang harus ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas tes baik secara keseluruhan maupun butirnya. Analisis butir soal merupakan proses penilaian terhadap butir soal untuk mengkaji dan menelaah kualitas butir soal yang telah dibuat agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal tersebut digunakan secara lebih luas.
B.     Prosedur Pengembangan
Pengembangan dengan model McIntere haruslah mengikuti 10 langkah-langkah pelaksanaan yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1.      Tahap defining the test universe, audience, and purpose
2.      Tahap developing a test plan
a.       Konstruk Soal
Konstruk soal (kisi-kisi) dibuat berdasarkan analisis kompetensi dasar atau komponen teori/materi soal yang diujikan. Pada soal hasil belajar, konstruk tes biasa dianalisis dari komponen KSAOs (knowledge, skills, abilities, and other characteristics) yang harus ditunjukkan oleh peserta soal pada saat ujian. Penyusunan kisi-kisi bertujuan agar isi tes dapat mencakup seluruh materi dan butir-butir soal menyebar ke seluruh materi secara proporsional.
b.      Format Soal
Format soal mengacu pada tipe-tipe pertanyaan dan tipe jawaban. Menurut, karakteristik jawaban, dikenal soal yang jawabannya sudah tersedia dan peserta didik tinggal memilih saja serta soal yang jawabannya ditulis sendiri oleh siswa.
c.       Bentuk Penyelenggaraan dan Cara Penyekoran
Soal dapat diselenggarakan dalam beberapa bentuk soal pilihan ganda dan uraian. Cara penyekoran soal menggunakan model penyekoran kumulatif merupakan model penyekoran yang paling umum digunakan untuk mengetahui skor soal total yang benar pada tiap-tiap individu.
3.      Tahap composing the test items
4.      Tahap writing the administration instruction
5.      Tahap conduct piloting test
6.      Tahap conduct items analysis
Setelah uji coba soal dilakukan, untuk mengetahui butir-butir soal tesebut sudah baik atau belum, maka perlu dilakukan telaah empiris demngan menganalisis butir secara kuantitatif. Hal-hal yang dianalisis antara lain tingkat kesulitan, daya pembeda, dan korelasi antar butir.
7.      Tahap revising the test
8.      Tahap validation the test
9.      Tahap developing norms
10.  Tahap complete test manual
C.    Analisis Data
1.      Uji Kecukupan Sampel
Uji kecukupan sampel dilakuakn untuk melihat apakah sampel digunakan mampu mewakili populasi atau belum. Terpenuhinya kecukupan sampel dalam dilihat dari nilai Kaiser-Mayer-Oikin Measure of Sampling Adequacy (KMO-MSA) dengan kriteria kurang dari 0,05.
2.      Uji Asumsi
a.       Unidimensi
Selanjutnya adalah analisis untuk menguji asumsi unidimensi, Asumsi ini dibuktikan dengan analisis faktor eksplanatori (AFE). Analisis faktor ini menunjukkan kesahihan suatu validitas konstruk. Instumen soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal dapat memenuhi unidimensi ketika nilai eigennya lebih dari 1.
b.      Independensi lokal
Asumsi independensi lokal menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menjawab butir soal tidak memperngaruhi jawaban siswa terhadap butir soal yang lain. De mars (Retnawati, 2017, p. 141) menyatakan bahwa independensi lokal dapat dipenuhi ketika asumsi unidimensional juga terpenuhi.
c.       Invariansi parameter
Asumsi invariansi parameter menunjukkan karakteristik butir tidak bergantung pada distibutir parameter kemampuan siswa dan parameter yang menjadi ciri peserta tes tidak tergantung dari ciri butir soal. Uji invariansi parameter ini terdiri dari invariansi parameter butir dan invariansi kemampuan. Uji invariansi parameter dilakukan dengan melihat scater-plot. Jika titik pada scater-plot mendekati garis yang melalui titik asal dengan gradien maka dianggap invariant (Retnawati, 2017, p. 145)
3.      Analisis Uji Coba Instrumen
a.       Kecocokan butir
Kecocokan butir merupakan indeks yang menentukan suatu butir memenuhi persyaratan sebagaii alat ukur yang baik dan berfungsi optimal. Pengujian ini dilakukan dengan bantuan program QUEST berdasarkan kriteria nilai INFIT Means of Square (Mean INFIT MNSG). Pada hasil analisis butir dapat dikatakan cocok atau fit jika nilai Mean INFIT MNSG yang ditunjukkan dengan tanda bintang berada pada jalur INFIT MNSG (Retnawati, 2017, p. 159). Menurut Adam & Khoo (1996, p. 30) jalur  INFIT MNSG berada pada rentang 0,77 – 1,30.
b.      Estimasi Reliabilitas Uji Coba Instrumen
Reliabilitas instrumen menunjukkan keajegan (consistency) hasil pengukuran pada objek yang sama. Nilai reliabilitas instrumen ditunjukkan dengan koefisien reliabilitas yang besarnya antara 
c.       Fungsi Informasi dan Kesalahan Pengukuran
Fungsi informasi tes merupakan kekuatan tes dalam mengungkap kemampuan yang diukur oleh instrumen. Fungsi informasi tes akan berubah-ubah sesuai dengan nilai  (ability). Pada nilai  tertentu, nilai fungsi informasi akan mencapai nilai maksimum. Titik maksimum tersebut menunjukkan bahwa apabila butir soal dikerjakan oleh siswa dengan   tertentu, maka akan diperoleh informasi yang paling tinggi (Nana, 1992, p. 324).
Fungsi informasi tes memberikan ukuran yang lebih akurat dalam mengestimasi kemampuan siswa (Samejinah, 1994, p. 229). Fungsi informasi tes diterjemahkan sebagai Test Infromation Function (TIF). Kurva TIF untuk tes pendidikan umumnya berbentuk lonceng dengan jumlah informasi maksimum berada di dekat titik tertentu (DePascale & Dunn, 2008, p. 2).
4.      Estimasi Kemampuan Siswa
Estimasi kemampuan siswa dari data uji coba soal koneksi dan penalaran matematika konteks budaya lokal dianalisis menggunakan bantuan program QUEST. Output hasil analisis dengan program QUEST menyajikan kemampuan siswa dalam bentuk  yang selanjutnya dikonversikan kedalam skala 0-100. Setelah dikonversikan, skor yang diperoleh siswa dikelompokkan dengan interval skor yang telah ditentukan pada tabel berikut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "IDENTIFIKASI MAKNA FILOSOFIS PADA PERMASALAHAN PENDIDIKAN MATEMATIKA"

    Tugas UAS Mata Kuliah : Filsafat Umum Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Disusun oleh : Novi Indriyani Kones PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH 1.        Bagaimana filsafat memandang fenomena siswa masih menganggap matematika itu pelajaran yang sulit ? Penjelasan : Secara pragmatism, matematika dapat dipandang sebagai ilmu tentang dunia nyata dimana konsep matematika muncul dari usaha manusia memecahkan persoalan dunia nyata misalnya pengukuran pada geometri, gerak benda pada kalkulus, perkiraan pada teori kemungkinan dan lain-lain. Tetapi lebih dari itu, matematika juga digunakan untuk ilmu-ilmu lain, maka muncul pula istilah-istilah yang bersesuaian dengan ilmu-ilmu itu, misalnya yang berkaitan dengan mekanika, ilmu perbintangan, ilmu kimia, biologi dan seterusnya. Pendekatan ontologis merupakan refleksi untuk menangkap kenyataan matematika sebagaimana kenyataan tersebut telah ...

TUGAS AKHIR FILSAFAT ILMU "8 JUDUL PERMASALAHAN PENELITIAN PENDIDIKAN"

Tugas UAS Mata Kuliah : Filsafat Umum Dosen Pengampu : Prof. Dr. Marsigit, M.A Disusun oleh : Novi Indriyani Kones Berdasarkan  permasalahan-permasalahan pembelajaran matematika pada tugas bagian 1 maka dapat diidentifikasi 8 judul tesis berikut ini: 1.        Pengembangan Soal Matematika Berbasis Budaya Cirebon. 2.        Soal Koneksi Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 3.        Soal Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 4.        Pengembangan Soal Koneksi dan Penalaran Matematika SMP Berbasis Budaya Lokal. 5.        Model Pembelajaran Matematika SMP Berbasis Etnomatematika 6.        Model Pembelajaran Matematika SMA Berbasis Budaya Lokal 7.        Pengembangan Instrumen Penilaian Siswa Berbasis Budaya Cirebon. 8. ...